Sweet As Mocca
Erza
melihat timeline twitter pada layar handphonenya. Matanya menyeret tiap
huruf saat akun official Mocca mengumumkan
besok Mocca akan kembali tampil. Raut muka Erza langsung terlihat sumeringah.
“Mel,
BBM aku ndak dibales, besok Mocca tampil
nih Mel, nonton yok!” Erza mengirim BBM kepada Amel.
Menunggu
balasan Amel, Erza duduk di samping tukang gorengan depan kampusnya. Menyeruput
teh dalam botol lalu memerhatikan mahasiswa-mahasiswa yang lalu lalang di
depannya. Sesekali dia menyapa mahasiswa yang dikenalnya.
Handphone
Erza bergetar. Balasan dari Amel. Wajah Erza berubah seketika. Kerutan-kerutan
di dahinya bercampur dengan keringat pada wajahnya. Erza menyruput habis tehnya
kemudian pergi.
“Oh,
nonton Mocca sama Dika, baguslah kalau gitu” ketus Erza sambil menendang kaleng
yang menghalangi jalannya.
***
Sudah
kesekian kalinya tombol bergambar tong sampah Erza tekan. Setiap melihat layar
kecil pada kameranya dia mengeluh kecil. Tidak ada yang salah dengan
objek-objek fotonya, yang salah pikiran Erza. Matanya memang berada di dekat
kamera, tapi pikirannya entah kemana.
Tidak
seperti biasanya. Erza lebih sering menggantung membiarkan kameranya
dibandingkan mengambil berbagai pose foto Arina, Toma, Rico dan Indra di atas panggung. Kali ini dia
juga tidak ada di barisan depan para penonton, Erza lebih memilih menjauhi
kerumunan. Bukan mencari angle yang
cantik, tetapi mencari seseorang yang membuat harinya kacau kemarin. Amel.
Erza
tidak memungkiri. Perasaannya kepada Amel kembali tumbuh seperti empat tahun
yang lalu. Saat Erza meminta Amel memintanya untuk menjadi kekasihnya di taman
depan sekolah Erza. Suara Arina menyanyikan
on the night like this lewat MP3 menjadi saksi cerita cinta mereka dimulai.
Bodohnya, Erza memutuskan Amel sebulan kemudian dengan alasan fokus untuk masuk
perguruan tinggi. Sebulan setelah memutuskan Amel, Erza memacari Assya, gadis
impiannya selama di SMA.
Erza
menarik nafasnya panjang. Mengangkat kepalanya melihat langit-langit. Tak ada
bulan saat itu karena tertutup oleh atap-atap beton yang menyelimuti ruangan. Erza kembali mengangkat kameranya. Lensanya menjelejah
sudut-sudut ruangan, mencari objek hingga dia mengklik tombol shutternya.
Lensanya berhenti pada gadis di antara kerumunan penonton. Memakai kemeja
bermotif lingkaran dengan sepatu converse coklat yang sudah usang.
“Amel”
katanya pelan sambil menggantungkan kembali kamera di lehernya.
Erza
mendekati Amel sembunyi-sembunyi. Matanya memerhatikan orang-orang sekeliling
Amel. Tidak ada Dika berdiri di dekat Amel. Amel menyaksikan konser Mocca
sendirian malam itu. Tidak ada kecerian seperti biasanya saat menonton Mocca di
wajah Amel. Bahkan, matanya berkaca-kaca saat Arina menyanyikan Hyper Ballad.
Erza
mengambil handphone di sakunya.
“Jadi
nonton Mocca sama Dika, Mel?” Erza mengirim pesan singkat kepada Amel.
Amel
tidak merasa diperhatikan Erza di belakangnya. Diambilnya Handphone dari saku
kemejanya. Jarinya sibuk mengetik balasan kepada Erza.
“Jadi,
Za. Kamu jadi gak?” jawab Amel berbohong kepada Erza. Erza tertawa kecil
membaca balasan Amel.
“Enggak
jadi, Mel, gak ada temen” kini Erza yang membohongi Amel. Tidak lama kemudian
balasan Amel diterima Erza.
“Kasian
banget, hahaha” Erza kembali tertawa kecil merasa berhasil membohongi Amel.
“Gimana?
Romantis kan nonton Mocca sama pacar?” ketik Erza membalas pesan Amel.
Amel
membaca pesan terakhir Erza. Dia menunduk menyembunyikan matanya yang mulai
kembali berkaca-kaca karena malu bila orang lain di kerumunan melihat Amel mulai
menangis. Diambilnya lembaran tisu pada tasnya untuk menghapus air mata yang mulai jatuh.
Erza
memerhatikan Amel dari jauh, merasa iba melihat mantan kekasihnya. Ingin dia
mendekatinya dan bertanya mengapa dia
sesedih itu. Tetapi Erza urungkan niatnya. Pesan bohongnya sudah terlanjut
dibaca Amel. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk ke handphone Erza.
“Nonton
Mocca sama pacar itu rasanya Sweet As Mocca, za”
Erza
tersenyum membaca pesan terakhir dari Amel. Memasukan handphone ke
saku jaketnya, kemudian berjalan ke luar ruangan meninggalkan kerumunan. Suara
Arina perlahan-lahan menghilang di telinga Erza. Erza kini dapat melihat bulan
dan awan yang memenuhi langit malam itu.
“Bodoh,
buah mocca itu pahit, enggak manis” lirih Erza.
(End)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar