Minggu, 26 Mei 2013

Sweet As Mocca (4)

Sweet As Mocca

Erza melihat timeline twitter pada layar handphonenya. Matanya menyeret tiap huruf saat akun official Mocca mengumumkan besok Mocca akan kembali tampil. Raut muka Erza langsung terlihat sumeringah.

“Mel, BBM aku ndak dibales,  besok Mocca tampil nih Mel, nonton yok!” Erza mengirim BBM kepada Amel.

Menunggu balasan Amel, Erza duduk di samping tukang gorengan depan kampusnya. Menyeruput teh dalam botol lalu memerhatikan mahasiswa-mahasiswa yang lalu lalang di depannya. Sesekali dia menyapa mahasiswa yang dikenalnya.

Handphone Erza bergetar. Balasan dari Amel. Wajah Erza berubah seketika. Kerutan-kerutan di dahinya bercampur dengan keringat pada wajahnya. Erza menyruput habis tehnya kemudian pergi.

“Oh, nonton Mocca sama Dika, baguslah kalau gitu” ketus Erza sambil menendang kaleng yang menghalangi jalannya.

***

Sudah kesekian kalinya tombol bergambar tong sampah Erza tekan. Setiap melihat layar kecil pada kameranya dia mengeluh kecil. Tidak ada yang salah dengan objek-objek fotonya, yang salah pikiran Erza. Matanya memang berada di dekat kamera, tapi pikirannya entah kemana.

Tidak seperti biasanya. Erza lebih sering menggantung membiarkan kameranya dibandingkan mengambil berbagai pose foto Arina, Toma, Rico dan Indra di atas panggung. Kali ini dia juga tidak ada di barisan depan para penonton, Erza lebih memilih menjauhi kerumunan. Bukan mencari angle yang cantik, tetapi mencari seseorang yang membuat harinya kacau kemarin. Amel.

Erza tidak memungkiri. Perasaannya kepada Amel kembali tumbuh seperti empat tahun yang lalu. Saat Erza meminta Amel memintanya untuk menjadi kekasihnya di taman depan sekolah Erza. Suara Arina menyanyikan on the night like this lewat MP3 menjadi saksi cerita cinta mereka dimulai. Bodohnya, Erza memutuskan Amel sebulan kemudian dengan alasan fokus untuk masuk perguruan tinggi. Sebulan setelah memutuskan Amel, Erza memacari Assya, gadis impiannya selama di SMA.

Erza menarik nafasnya panjang. Mengangkat kepalanya melihat langit-langit. Tak ada bulan saat itu karena tertutup oleh atap-atap beton yang menyelimuti ruangan. Erza kembali mengangkat kameranya. Lensanya menjelejah sudut-sudut ruangan, mencari objek hingga dia mengklik tombol shutternya. Lensanya berhenti pada gadis di antara kerumunan penonton. Memakai kemeja bermotif lingkaran dengan sepatu converse coklat yang sudah usang.

“Amel” katanya pelan sambil menggantungkan kembali kamera di lehernya.

Erza mendekati Amel sembunyi-sembunyi. Matanya memerhatikan orang-orang sekeliling Amel. Tidak ada Dika berdiri di dekat Amel. Amel menyaksikan konser Mocca sendirian malam itu. Tidak ada kecerian seperti biasanya saat menonton Mocca di wajah Amel. Bahkan, matanya berkaca-kaca saat Arina menyanyikan Hyper Ballad.

Erza mengambil handphone di sakunya.

“Jadi nonton Mocca sama Dika, Mel?” Erza mengirim pesan singkat kepada Amel.

Amel tidak merasa diperhatikan Erza di belakangnya. Diambilnya Handphone dari saku kemejanya. Jarinya sibuk mengetik balasan kepada Erza.

“Jadi, Za. Kamu jadi gak?” jawab Amel berbohong kepada Erza. Erza tertawa kecil membaca balasan Amel.

“Enggak jadi, Mel, gak ada temen” kini Erza yang membohongi Amel. Tidak lama kemudian balasan Amel diterima Erza.

“Kasian banget, hahaha” Erza kembali tertawa kecil merasa berhasil membohongi Amel.

“Gimana? Romantis kan nonton Mocca sama pacar?” ketik Erza membalas pesan Amel.

Amel membaca pesan terakhir Erza. Dia menunduk menyembunyikan matanya yang mulai kembali berkaca-kaca karena malu bila orang lain di kerumunan melihat Amel mulai menangis. Diambilnya lembaran tisu pada tasnya untuk menghapus air mata yang mulai jatuh.

Erza memerhatikan Amel dari jauh, merasa iba melihat mantan kekasihnya. Ingin dia mendekatinya dan  bertanya mengapa dia sesedih itu. Tetapi Erza urungkan niatnya. Pesan bohongnya sudah terlanjut dibaca Amel. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk ke handphone Erza.

“Nonton Mocca sama pacar itu rasanya Sweet As Mocca, za”

Erza tersenyum membaca pesan terakhir dari Amel. Memasukan handphone ke saku jaketnya, kemudian berjalan ke luar ruangan meninggalkan kerumunan. Suara Arina perlahan-lahan menghilang di telinga Erza. Erza kini dapat melihat bulan dan awan yang memenuhi langit malam itu.

“Bodoh, buah mocca itu pahit, enggak manis” lirih Erza.


(End)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar