Cangkir Kopi Terakhir
Sudah
ketiga kalinya Dika melihat jam tangannya. Sesekali dia melirik ke arah pintu
masuk kedai kopi. Tak sabar dia menemui Amel yang sudah seminggu tidak bertemu.
Diteguknya kopi hitam dalam cangkir yang sudah setengah kosong.
“Sorry
Dik, aku telat” seorang gadis berdiri di didepannya. Dika tersenyum sambil
memiringkan wajahnya.
“Gak
apa-apa, Mel. Ayo duduk” pinta Dika pada Amel. Amel menarik kursi kayu di depan
meja Dika. Saling berhadapan. Amel tampak cantik sekali hari ini di mata Dika.
Padahal penampilannya sama saja tak ada yang berbeda. Kemeja biru muda
kotak-kotak dengan celana jeans berwarna
pudar dilengkapi sepatu converse flat warna
coklat.
Mereka
berdua terdiam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Amel menarik daftar menu di
atas meja kemudian matanya menyusuri deretan nama-nama kopi. Sebenarnya Amel
sudah tahu mau memesan apa, tapi dia berpura-pura agar tidak memulai
pembicaraan.
Melihat
tingkah Amel, Dika mengerti. “Mel, aku kangen loh sama kamu” ucap Dika memulai pembicaraan. Amel meletakkan
daftar menu sambil melihat Dika.
“Yakin?
Bukannya kamu lagi jenuh?” sindir Amel. Dika menarik nafas panjang. Amel
memanggil pelayan sambil menyebutkan pesanannya, Chococino panas. Campuran
moccachino dengan serbuk coklat dicampur dengan susu kental manis.
“Udah
aku duga kamu pesen Chococino” Dika mencoba mengalihkan pembicaraan. Amel
tersenyum kecil kepada Dika, tidak lama, bibir Amel kembali ditekuk.
“Semuanya
beda. Semuanya udah berubah” lirih Amel. Dika kaget lalu meletakkan daftar menu
yang dipegangnya.
“Mas,
nanti pesanan saya menyusul saja” kata Dika kemudian pelayan tersebut
meninggalkan Dika dan Amel. “Kamu tadi ngomong apa, Mel?” tanya Dika.
“Kamu
ngerasa gak sih dik? Sekarang kita gak kaya dulu lagi” Dika terdiam mendengar
perkataan Amel. Menarik napas panjang kemudian kembali mendengarkan Amel.
“Kita
gak bisa lepas ketawa kayak dulu lagi. Kamu sibuk sama kuliah kamu, aku sibuk
sama kegiatan aku. Tiap minggu pasti ada hari dimana kita berantem. Aku yang
egois, sama”
“Kamu
mau putus, Mel?” Dika memotong pembicaraan Amel. Amel terdiam, Dika menatap
Amel, memerhatikan tiap detil dari wajah Amel. Tak sadar tetesan air mengalir
keluar dari mata Amel. Tangannya otomatis mengambil tisu dari tasnya kemudian
menyapu kedua matanya yang sudah mulai basah.
Suasana
hening seketika. Dika terdiam menunggu jawaban Amel. Ingin rasanya dia duduk
disebelah Amel lalu memeluknya dan berkata “Kamu butuh pundak aku, Mel?”. Cara
efektif menenangkan kekasihnya selama tiga tahun bila menangis. Tapi sekarang
sepertinya cara tersebut tidak akan berhasil.
Amel
mengangkat kepalanya. Matanya sembab. “Dikk.. Aku sayang sama kamu.. dan aku
tau kamu juga sayang sama aku”
Dika
masih diam.
“Dik..
Kisah kita indah, tapi gak akan selamanya indah. Aku rasa, cerita kita menuju
ke arah bad ending kalau diterusin”
“Sekarang
juga udah bad ending , Mel” akhirnya
Dika membuka mulut. Amel tersenyum mendengar ucapan Dika.
“Gak
selamanya happyly ever after itu
harus sama-sama loh dik”
“Iya,
Mel. Aku terima kok” Dika balas
tersenyum kepada Amel. Hubungan tiga tahun harus diakhiri secangkir kopi di
kedai kopi tempat biasa mereka tertawa, ngobrol hal-hal yang gak penting,
ataupun saling menemani saat mengerjakan tugas. Dika mengerutkan wajahnya.
Amel
menahan tangis memaksa tersenyum.
“Mel,
tadinya aku pengen ketemu kamu mau ngajak kamu nonton ini” kata Dika sambil
mengeluarkan dua helai tiket. Dua helai tiket konser musik Mocca jumat minggu depan. “Kamu kan pengen banget nonton Mocca
bareng aku” kata Dika pelan.
Senyum
Amel hilang malam itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar