Minggu, 26 Mei 2013

Sweet As Mocca (3)

Cangkir Kopi Terakhir 

Sudah ketiga kalinya Dika melihat jam tangannya. Sesekali dia melirik ke arah pintu masuk kedai kopi. Tak sabar dia menemui Amel yang sudah seminggu tidak bertemu. Diteguknya kopi hitam dalam cangkir yang sudah setengah kosong.

“Sorry Dik, aku telat” seorang gadis berdiri di didepannya. Dika tersenyum sambil memiringkan wajahnya.

“Gak apa-apa, Mel. Ayo duduk” pinta Dika pada Amel. Amel menarik kursi kayu di depan meja Dika. Saling berhadapan. Amel tampak cantik sekali hari ini di mata Dika. Padahal penampilannya sama saja tak ada yang berbeda. Kemeja biru muda kotak-kotak dengan celana jeans berwarna pudar dilengkapi sepatu converse flat warna coklat.

Mereka berdua terdiam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Amel menarik daftar menu di atas meja kemudian matanya menyusuri deretan nama-nama kopi. Sebenarnya Amel sudah tahu mau memesan apa, tapi dia berpura-pura agar tidak memulai pembicaraan.

Melihat tingkah Amel, Dika mengerti. “Mel, aku kangen loh sama kamu” ucap Dika memulai pembicaraan. Amel meletakkan daftar menu sambil melihat Dika.

“Yakin? Bukannya kamu lagi jenuh?” sindir Amel. Dika menarik nafas panjang. Amel memanggil pelayan sambil menyebutkan pesanannya, Chococino panas. Campuran moccachino dengan serbuk coklat dicampur dengan susu kental manis.

“Udah aku duga kamu pesen Chococino” Dika mencoba mengalihkan pembicaraan. Amel tersenyum kecil kepada Dika, tidak lama, bibir Amel kembali ditekuk.

“Semuanya beda. Semuanya udah berubah” lirih Amel. Dika kaget lalu meletakkan daftar menu yang dipegangnya.

“Mas, nanti pesanan saya menyusul saja” kata Dika kemudian pelayan tersebut meninggalkan Dika dan Amel. “Kamu tadi ngomong apa, Mel?” tanya Dika.

“Kamu ngerasa gak sih dik? Sekarang kita gak kaya dulu lagi” Dika terdiam mendengar perkataan Amel. Menarik napas panjang kemudian kembali mendengarkan Amel.

“Kita gak bisa lepas ketawa kayak dulu lagi. Kamu sibuk sama kuliah kamu, aku sibuk sama kegiatan aku. Tiap minggu pasti ada hari dimana kita berantem. Aku yang egois, sama”

“Kamu mau putus, Mel?” Dika memotong pembicaraan Amel. Amel terdiam, Dika menatap Amel, memerhatikan tiap detil dari wajah Amel. Tak sadar tetesan air mengalir keluar dari mata Amel. Tangannya otomatis mengambil tisu dari tasnya kemudian menyapu kedua matanya yang sudah mulai basah.

Suasana hening seketika. Dika terdiam menunggu jawaban Amel. Ingin rasanya dia duduk disebelah Amel lalu memeluknya dan berkata “Kamu butuh pundak aku, Mel?”. Cara efektif menenangkan kekasihnya selama tiga tahun bila menangis. Tapi sekarang sepertinya cara tersebut tidak akan berhasil.

Amel mengangkat kepalanya. Matanya sembab. “Dikk.. Aku sayang sama kamu.. dan aku tau kamu juga sayang sama aku”

Dika masih diam.

“Dik.. Kisah kita indah, tapi gak akan selamanya indah. Aku rasa, cerita kita menuju ke arah bad ending kalau diterusin”

“Sekarang juga udah bad ending , Mel” akhirnya Dika membuka mulut. Amel tersenyum mendengar ucapan Dika.

“Gak selamanya happyly ever after itu harus sama-sama loh dik”

“Iya, Mel. Aku terima kok” Dika balas tersenyum kepada Amel. Hubungan tiga tahun harus diakhiri secangkir kopi di kedai kopi tempat biasa mereka tertawa, ngobrol hal-hal yang gak penting, ataupun saling menemani saat mengerjakan tugas. Dika mengerutkan wajahnya.

Amel menahan tangis memaksa tersenyum.

“Mel, tadinya aku pengen ketemu kamu mau ngajak kamu nonton ini” kata Dika sambil mengeluarkan dua helai tiket. Dua helai tiket konser musik Mocca jumat minggu depan. “Kamu kan pengen banget nonton Mocca bareng aku” kata Dika pelan.

Senyum Amel hilang malam itu.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar