Pesan dari Dika
Amel
mendesah kecil. Jari-jarinya menari di atas huruf-huruf keyboard laptopnya. Diperhatikannya setiap huruf pada monitor yang
terus bertambah seiring tarian jarinya. Tanda titik akhir paragraf, perhatian
Amel teralihkan pada handphonenya yang berbunyi.
“Mel,
jumat lusa depan Mocca tampil lagi. Nonton yok!” Amel membaca pesan black berry Reza.
Amel
meletakkan hand phonenya. Amel
berpikir apa Reza tidak sadar bahwa dirinya sedang memiliki kekasih. Apalagi,
Reza merupakan mantan Amel. Orang yang mengenal Amel ataupun Reza akan
berpikiran yang aneh-aneh pada dirinya, selingkuh, main di belakang, apapun itu
namanya.
Handphone
Amel kembali berbunyi.
“Mel,
dimana?” Kali ini pesan dari Dika. Amel melemparkan handphonenya ke tumpukan kasur disampingnya.
“Mau
kamu apa sih, Dik?” tanya Amel pada dirinya sendiri. Hubungan Amel dan Dika
memang dalam keadaan yang tidak baik. Seminggu kemarin, Dika secara
terang-terangan mengatakan jenuh kepada Amel. Amel bertanya apa ingin Dika,
Dika menjawab meminta break. Amel
tersenyum kecut. Selama tiga tahun menjalin hubungan, baru kali ini ada di
antara mereka meminta break karena
jenuh.
Amel
membalas pesan Dika. “Di rumah. kenapa?” jawabnya singkat.
Tak
lama pesan dari Dika kembali masuk. “Aku kangen mel sama kamu, kita ketemu yuk”.
“Apaaa?”
teriak Amel otomatis. ”Gila, seminggu kemarin dia jenuh lalu minta break, sekarang kangen minta ketemu!
Emangnya gue mainan apa?” ketus Amel melampiaskan emosinya pada dirinya
sendiri. Seperti monolog, mungkin orang lain yang melihatnya akan menyangka
dirinya gila berbicara sendiri.
“Enggak”
jawab Amel singkat.
“Please
Mel, aku mau ketemu kamu, memperbaiki semuanya”
Amel
mendengus. Pesan Erza tak langsung dia balas. Dia melemparkan tubuhnya ke atas
kasur. Menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Seketika pikirannya
berkecambuk. Memori-memori dia dan Dika terputar dalam otaknya. Memori-memori
tersebut memaksa air mata Amel keluar dan
turun membasahi pipinya yang
merah. Semakin lama terputar, air matanya pun semakin mengalir. Tak pernah dia
sesedih ini mengingat cerita-cerita bersama Dika. Ya, keadaannya berbeda.
“Bukan kamu aja yang jenuh Dik, aku juga” katanya pelan.
Amel
mengambil handphone disebelahnya.
“Okey, kamu gak usah jemput aku. aku tunggu jam 7 di kedai kopi biasa”.
Amel
kembali menatap langit-langit kamarnya. Dika kembali menyapa dalam
bayang-bayang pikirannya. Namun kali ini, sosok yang dia kenal masuk ke dalam
dunia ciptaan Amel. Reza. Kenangan singkat saat menonton Mocca tiga hari yang
lalu bersama Reza terputar menggantikan bayangan Dika.
“Dih,
ngapain aku inget-inget itu anak”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar