Rabu, 15 Mei 2013

Sweet As Mocca (2)

Pesan dari Dika

Amel mendesah kecil. Jari-jarinya menari di atas huruf-huruf keyboard laptopnya. Diperhatikannya setiap huruf pada monitor yang terus bertambah seiring tarian jarinya. Tanda titik akhir paragraf, perhatian Amel teralihkan pada handphonenya yang berbunyi.

“Mel, jumat lusa depan Mocca tampil lagi. Nonton yok!” Amel membaca pesan black berry Reza.

Amel meletakkan hand phonenya. Amel berpikir apa Reza tidak sadar bahwa dirinya sedang memiliki kekasih. Apalagi, Reza merupakan mantan Amel. Orang yang mengenal Amel ataupun Reza akan berpikiran yang aneh-aneh pada dirinya, selingkuh, main di belakang, apapun itu namanya.

Handphone Amel kembali berbunyi.

“Mel, dimana?” Kali ini pesan dari Dika. Amel melemparkan handphonenya ke tumpukan kasur disampingnya.

“Mau kamu apa sih, Dik?” tanya Amel pada dirinya sendiri. Hubungan Amel dan Dika memang dalam keadaan yang tidak baik. Seminggu kemarin, Dika secara terang-terangan mengatakan jenuh kepada Amel. Amel bertanya apa ingin Dika, Dika menjawab meminta break. Amel tersenyum kecut. Selama tiga tahun menjalin hubungan, baru kali ini ada di antara mereka meminta break karena jenuh.

Amel membalas pesan Dika. “Di rumah. kenapa?” jawabnya singkat.

Tak lama pesan dari Dika kembali masuk. “Aku kangen mel sama kamu, kita ketemu yuk”.

 “Apaaa?” teriak Amel otomatis. ”Gila, seminggu kemarin dia jenuh lalu minta break, sekarang kangen minta ketemu! Emangnya gue mainan apa?” ketus Amel melampiaskan emosinya pada dirinya sendiri. Seperti monolog, mungkin orang lain yang melihatnya akan menyangka dirinya gila berbicara sendiri.

“Enggak” jawab Amel singkat.

“Please Mel, aku mau ketemu kamu, memperbaiki semuanya”

Amel mendengus. Pesan Erza tak langsung dia balas. Dia melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Seketika pikirannya berkecambuk. Memori-memori dia dan Dika terputar dalam otaknya. Memori-memori tersebut memaksa air mata Amel keluar dan  turun  membasahi pipinya yang merah. Semakin lama terputar, air matanya pun semakin mengalir. Tak pernah dia sesedih ini mengingat cerita-cerita bersama Dika. Ya, keadaannya berbeda. “Bukan kamu aja yang jenuh Dik, aku juga” katanya pelan.

Amel mengambil handphone disebelahnya. “Okey, kamu gak usah jemput aku. aku tunggu jam 7 di kedai kopi biasa”.

Amel kembali menatap langit-langit kamarnya. Dika kembali menyapa dalam bayang-bayang pikirannya. Namun kali ini, sosok yang dia kenal masuk ke dalam dunia ciptaan Amel. Reza. Kenangan singkat saat menonton Mocca tiga hari yang lalu bersama Reza terputar menggantikan bayangan Dika.

“Dih, ngapain aku inget-inget itu anak”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar