Selasa, 07 Mei 2013

Sweet As Mocca (1)

Malam di Panatayudha

“ I remember all the things that we shared and the promise we made..
Just you and I”

Erza memutar lensa kameranya mencari fokus dari Arina di atas panggung. Suara Arina membawakan lagu I remember bercampur dengan heningnya malam Taman Panatayudha. Malam itu Mocca mengisi acara musik yang diadakan salah satu universitas favorit di Kota Bandung. Konsep acaranya unik, membuat acara musik di ruang terbuka hijau kota dengan maksud agar masyarakat kota mau beraktivitas di taman kota.  Erza menjauhkan kamera dari matanya lalu memutar wajah menghadap gadis di sampingnya.

“Kenapa sih kamu gak nonton sama Dika?” tanya Erza pada Amel. Amel yang dari tadi terus menonton Arina dan kawan-kawan tersentak mendengar pertanyaan Erza.

Napa sih nanya gitu mulu? Kamu gak ikhlas nemenin aku, heuh?” Amel balik bertanya yang lebih terdengar seperti menggerutu.

Erza kembali mencari objek menggunakan kameranya. Matanya sibuk dengan lensa kamera lalu mulutnya kembali terbuka.

Yah, nonton Mocca kan enaknya sama pacar, Mel” Erza mengganti angle kameranya.

“Enggak, enakan sama temen, lebih bebas, kalau sama pacar kan harus ngurusin dia” jawab Amel ketus.

“Ohh” jawab Erza singkat. Suasana seketika hening di antara mereka berdua. Suara Arina kembali mencuri perhatian Amel sedangkan Erza sibuk dengan kameranya. Amel tiba-tiba mengangkat kepala menatap langit malam.

“Dia gak suka Mocca, Za” lirih Amel pelan. Erza menurunkan  kameranya kembali melihat Amel di sampingnya.

“Dih galau!” ejek Erza. “Namanya cinta, tai kucing pun dirasa coklat. Gak suka mocca pun kalo sama pacar ya berasa nonton Dewi Persik manggung gak pake baju” tambah Erza diakhiri tawa sedangkan Amel diam saja mendengarnya. Matanya kini kembali tertarik pada Arina.

“Gak lucu yah, Mel?” Erza merasa bersalah mengejek Amel. Mata Amel dan Erza kini berhadapan. “Ha ha ha, lucu sekali Erza” Amel berbalik mengejek Erza sambil berpura-pura tertawa. Erza mengerinyitkan dahinya.

“Dasar kamu, gak  berubah dari dulu” Erza berdialog pada dirinya sendiri dalam hati.

Percakapan di antara keduanya terhenti. Mulut mereka berdua kini sama-sama menyanyikan lirik yang dibawakan Arina. Sesekali mereka saling berpandangan sambil bernyanyi bersama diakhiri tawa kecil ataupun senyum terkembang.

“i will be your best friend,
I will be your guarding light”

***
“Gila gila, pecah banget Mocca tadi, Za” Amel meletakkan sendok di atas tumpukan nasi gorengnya. Kedua tangannya memegang pipi wajah, matanya berbinar binar mengingat penampilan Mocca beberapa jam sebelumnya.

“Mocca memang keren, Mel, tapi karena lau lagi galau, tadi jadinya ngena banget yah?” ejek Erza diakhiri cekikikan cemprengnya. Erza tersedak karena saking semangatnya tertawa dia lupa sedang menelan nasi gorengnya.

Amel memberikan segelas air putih pada Erza. “Makannya jangan ngejek mulu, kena kan batunya” gerutu Amel. Erza menyambar gelas dari tangan Amel. Erza mengelus dada sambil mengatur napas. Amel meneruskan kembali suapan makanannya.

“Eh Za” panggil Amel sambil mengunyah.

“Iya, Mel, kenapa?”

“Tapi makasih yah, Za udah mau nemenin”

“Iyeee, sama-sama, kaku amat lau kayak ke siapa aja”

“Ke mantan” jawab Amel polos. Erza tertawa mendengar jawaban Amel kemudian Amel pun ikut tertawa.

“Eh, Za”

“Apalagi, Mantan?” tanya Erza.

“Jangan bilang-bilang Dika yah, pleasee” mohon Amel. Erza kembali terbahak-bahak mendengar jawaban Amel, kini tawanya lebih keras dari sebelumnya. Kali ini Amel tidak ikut tertawa, dia memutar kepalanya ke kiri dan kanan dengan cepat. Memastikan tidak ada orang yang dikenal di dekatnya.

“Iya, iya, takut amat” jawab Erza kemudian meneruskan tawanya.

Amel cemberut melihat Erza tertawa mengejeknya. Namun, lama kelamaan, lekukan bibir di wajahnya berubah jadi lekukan senyum.

Sebuah pesan masuk ke handphone Amel.


“Dimana Mel?” pesan dari Dika. Senyum Amel hilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar