Malam di Panatayudha
“
I remember all the things that we shared and the promise we made..
Just
you and I”
Erza
memutar lensa kameranya mencari fokus dari Arina di atas panggung. Suara Arina
membawakan lagu I remember bercampur
dengan heningnya malam Taman Panatayudha. Malam itu Mocca mengisi acara musik
yang diadakan salah satu universitas favorit di Kota Bandung. Konsep acaranya
unik, membuat acara musik di ruang terbuka hijau kota dengan maksud agar
masyarakat kota mau beraktivitas di taman kota. Erza menjauhkan kamera dari matanya lalu
memutar wajah menghadap gadis di sampingnya.
“Kenapa
sih kamu gak nonton sama Dika?” tanya Erza pada Amel. Amel yang dari tadi
terus menonton Arina dan kawan-kawan tersentak mendengar pertanyaan Erza.
“Napa sih nanya gitu mulu? Kamu gak ikhlas nemenin aku, heuh?” Amel
balik bertanya yang lebih terdengar seperti menggerutu.
Erza
kembali mencari objek menggunakan kameranya. Matanya sibuk dengan lensa kamera lalu
mulutnya kembali terbuka.
“Yah, nonton Mocca kan enaknya sama pacar, Mel” Erza mengganti angle kameranya.
“Enggak,
enakan sama temen, lebih bebas, kalau sama pacar kan harus ngurusin dia” jawab
Amel ketus.
“Ohh”
jawab Erza singkat. Suasana seketika hening di antara mereka berdua. Suara
Arina kembali mencuri perhatian Amel sedangkan Erza sibuk dengan kameranya.
Amel tiba-tiba mengangkat kepala menatap langit malam.
“Dia
gak suka Mocca, Za” lirih Amel pelan. Erza menurunkan kameranya kembali melihat Amel di sampingnya.
“Dih
galau!” ejek Erza. “Namanya cinta, tai kucing pun dirasa coklat. Gak suka mocca
pun kalo sama pacar ya berasa nonton
Dewi Persik manggung gak pake baju” tambah Erza diakhiri tawa sedangkan Amel
diam saja mendengarnya. Matanya kini kembali tertarik pada Arina.
“Gak
lucu yah, Mel?” Erza merasa bersalah mengejek Amel. Mata Amel dan Erza kini
berhadapan. “Ha ha ha, lucu sekali Erza” Amel berbalik mengejek Erza sambil
berpura-pura tertawa. Erza mengerinyitkan dahinya.
“Dasar
kamu, gak berubah dari dulu” Erza berdialog pada dirinya
sendiri dalam hati.
Percakapan
di antara keduanya terhenti. Mulut mereka berdua kini sama-sama menyanyikan
lirik yang dibawakan Arina. Sesekali mereka saling berpandangan sambil
bernyanyi bersama diakhiri tawa kecil ataupun senyum terkembang.
“i will be your best friend,
I will be your guarding light”
***
“Gila
gila, pecah banget Mocca tadi, Za” Amel meletakkan sendok di atas tumpukan nasi
gorengnya. Kedua tangannya memegang pipi wajah, matanya berbinar binar mengingat
penampilan Mocca beberapa jam sebelumnya.
“Mocca
memang keren, Mel, tapi karena lau lagi galau, tadi jadinya ngena banget yah?”
ejek Erza diakhiri cekikikan cemprengnya. Erza tersedak karena saking
semangatnya tertawa dia lupa sedang menelan nasi gorengnya.
Amel
memberikan segelas air putih pada Erza. “Makannya jangan ngejek mulu, kena kan
batunya” gerutu Amel. Erza menyambar gelas dari tangan Amel. Erza mengelus dada
sambil mengatur napas. Amel meneruskan kembali suapan makanannya.
“Eh
Za” panggil Amel sambil mengunyah.
“Iya,
Mel, kenapa?”
“Tapi
makasih yah, Za udah mau nemenin”
“Iyeee,
sama-sama, kaku amat lau kayak ke siapa aja”
“Ke
mantan” jawab Amel polos. Erza tertawa mendengar jawaban Amel kemudian Amel pun
ikut tertawa.
“Eh,
Za”
“Apalagi,
Mantan?” tanya Erza.
“Jangan
bilang-bilang Dika yah, pleasee”
mohon Amel. Erza kembali terbahak-bahak mendengar jawaban Amel, kini tawanya
lebih keras dari sebelumnya. Kali ini Amel tidak ikut tertawa, dia memutar
kepalanya ke kiri dan kanan dengan cepat. Memastikan tidak ada orang yang
dikenal di dekatnya.
“Iya,
iya, takut amat” jawab Erza kemudian meneruskan tawanya.
Amel
cemberut melihat Erza tertawa mengejeknya. Namun, lama kelamaan, lekukan bibir
di wajahnya berubah jadi lekukan senyum.
Sebuah
pesan masuk ke handphone Amel.
“Dimana Mel?” pesan dari Dika. Senyum Amel
hilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar