Pernah rindu sesuatu, bukan seseorang?
Sesuatu yang berharga bagi lo, sesuatu yang berarti bagi lo dan sesuatu itu udah ga ada dan ga akan kembali lagi.
Gw lagi merindukan sesuatu itu, kedengeran mellow sih, tapi bener, gw lagi bener-bener kangen.
Gw kangen sama sekolah gw, sama hidup gw di SMAN 8 Bandung.
Mungkin terdengar berlebihan sih, "apa-apan sih, Wan, sekolah doang". Dan kalau gw boleh bilang, setengah hidup gw yang paling berkesan hingga saat ini, kehidupan gw waktu masih pake seragam putih abu.
Seorang bocah pemalas, doyan tidur di kelas, iseng sama temen-temen kelas, ngediskusiin hal yang gak penting sama temen-temen OSIS. Gw rindu itu semua.
Gw rindu saat gw buru-buru masuk sekolah karena takut kena razia rambut di depan gerbang sekolah. Gw rindu waktu buat PR sambil makan roti bakar sebelum bel masuk kelas. Gw rindu, KM kelas gw teriak "Sikap, berisalam". Gw rindu saat guru fisika nyuruh gw ngerjain soal di depan padahal gw gak bisa sama sekali. Gw rindu detik-detik pas mau bel istirahat.
Gw rindu nulis tentang kehidupan sekolah gw di notes FB.
---------------------
Bocah Pemalas dan Si Gerbang Angkuh
oleh Ridwan Achmad
"Hai bodoh, aku melewatimu lagi pagi ini!" ujarku berhadapan dengannya.
"Hah! Lihat saja besok pagi! Ku pastikan kau tak akan bisa melewatiku" ujarnya menantang.
"Hah, bicaralah kau dengan pohon disebelahmu itu! Dia teman yang setia bukan? Sepanjang hari menemanimu. Maaf, aku tak bisa lama-lama berbicara denganmu, aku harus menyelesaikan PRku, bersenang-senanglah" aku pergi meninggalkannya yang kesal mendengar ucapanku.
Keesokan harinya, aku bertemu lagi dengannya.
"Apa aku bilang, kali ini kau tak bisa melewatiku kan?" Tanyanya angkuh kemudian tertawa kepadaku.
"Ah, lihat saja besok pagi! Aku akan melewatimu! Tunggu saja" hari ini giliranku yang menantangnya.
Dia tertawa. "Bicaralah kau dengan anak-anak disampingmu. Anak-anak bermulut besar yang tidak menghargai waktu. Pergi sana, aku ingin sendiri"
Setiap paginya aku dan dia saling menyombongkan diri. Saling berkompetisi yang kemudian diakhiri dengan saling mencaci. Tapi sepertinya, dia yang lebih sering menghinaku. Angkuh sekali dia.
Hari itu beda. Aku menghampirinya.
"Hai, apa kabarnya kau hari ini?" tanyaku padanya.
"Sepi. Sejujurnya, aku merindukanmu, mentertawakanmu setiap paginya" jawabnya terlihat sendu.
Aku tertawa "Aku pun merindukanmu, sudahlah jangan bersedih, masih banyak anak yang harus kau tertawakan besok pagi. Apakah kau akan mentertawakannya dengan raut muka seperti itu?"
Dia tersenyum kepadaku dan aku pun membalasnya. Aku merindukanmu dan merindukan kehidupan di dalamnya.
"Halo gerbang"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar