Minggu, 26 Mei 2013

Sweet As Mocca (4)

Sweet As Mocca

Erza melihat timeline twitter pada layar handphonenya. Matanya menyeret tiap huruf saat akun official Mocca mengumumkan besok Mocca akan kembali tampil. Raut muka Erza langsung terlihat sumeringah.

“Mel, BBM aku ndak dibales,  besok Mocca tampil nih Mel, nonton yok!” Erza mengirim BBM kepada Amel.

Menunggu balasan Amel, Erza duduk di samping tukang gorengan depan kampusnya. Menyeruput teh dalam botol lalu memerhatikan mahasiswa-mahasiswa yang lalu lalang di depannya. Sesekali dia menyapa mahasiswa yang dikenalnya.

Handphone Erza bergetar. Balasan dari Amel. Wajah Erza berubah seketika. Kerutan-kerutan di dahinya bercampur dengan keringat pada wajahnya. Erza menyruput habis tehnya kemudian pergi.

“Oh, nonton Mocca sama Dika, baguslah kalau gitu” ketus Erza sambil menendang kaleng yang menghalangi jalannya.

***

Sudah kesekian kalinya tombol bergambar tong sampah Erza tekan. Setiap melihat layar kecil pada kameranya dia mengeluh kecil. Tidak ada yang salah dengan objek-objek fotonya, yang salah pikiran Erza. Matanya memang berada di dekat kamera, tapi pikirannya entah kemana.

Tidak seperti biasanya. Erza lebih sering menggantung membiarkan kameranya dibandingkan mengambil berbagai pose foto Arina, Toma, Rico dan Indra di atas panggung. Kali ini dia juga tidak ada di barisan depan para penonton, Erza lebih memilih menjauhi kerumunan. Bukan mencari angle yang cantik, tetapi mencari seseorang yang membuat harinya kacau kemarin. Amel.

Erza tidak memungkiri. Perasaannya kepada Amel kembali tumbuh seperti empat tahun yang lalu. Saat Erza meminta Amel memintanya untuk menjadi kekasihnya di taman depan sekolah Erza. Suara Arina menyanyikan on the night like this lewat MP3 menjadi saksi cerita cinta mereka dimulai. Bodohnya, Erza memutuskan Amel sebulan kemudian dengan alasan fokus untuk masuk perguruan tinggi. Sebulan setelah memutuskan Amel, Erza memacari Assya, gadis impiannya selama di SMA.

Erza menarik nafasnya panjang. Mengangkat kepalanya melihat langit-langit. Tak ada bulan saat itu karena tertutup oleh atap-atap beton yang menyelimuti ruangan. Erza kembali mengangkat kameranya. Lensanya menjelejah sudut-sudut ruangan, mencari objek hingga dia mengklik tombol shutternya. Lensanya berhenti pada gadis di antara kerumunan penonton. Memakai kemeja bermotif lingkaran dengan sepatu converse coklat yang sudah usang.

“Amel” katanya pelan sambil menggantungkan kembali kamera di lehernya.

Erza mendekati Amel sembunyi-sembunyi. Matanya memerhatikan orang-orang sekeliling Amel. Tidak ada Dika berdiri di dekat Amel. Amel menyaksikan konser Mocca sendirian malam itu. Tidak ada kecerian seperti biasanya saat menonton Mocca di wajah Amel. Bahkan, matanya berkaca-kaca saat Arina menyanyikan Hyper Ballad.

Erza mengambil handphone di sakunya.

“Jadi nonton Mocca sama Dika, Mel?” Erza mengirim pesan singkat kepada Amel.

Amel tidak merasa diperhatikan Erza di belakangnya. Diambilnya Handphone dari saku kemejanya. Jarinya sibuk mengetik balasan kepada Erza.

“Jadi, Za. Kamu jadi gak?” jawab Amel berbohong kepada Erza. Erza tertawa kecil membaca balasan Amel.

“Enggak jadi, Mel, gak ada temen” kini Erza yang membohongi Amel. Tidak lama kemudian balasan Amel diterima Erza.

“Kasian banget, hahaha” Erza kembali tertawa kecil merasa berhasil membohongi Amel.

“Gimana? Romantis kan nonton Mocca sama pacar?” ketik Erza membalas pesan Amel.

Amel membaca pesan terakhir Erza. Dia menunduk menyembunyikan matanya yang mulai kembali berkaca-kaca karena malu bila orang lain di kerumunan melihat Amel mulai menangis. Diambilnya lembaran tisu pada tasnya untuk menghapus air mata yang mulai jatuh.

Erza memerhatikan Amel dari jauh, merasa iba melihat mantan kekasihnya. Ingin dia mendekatinya dan  bertanya mengapa dia sesedih itu. Tetapi Erza urungkan niatnya. Pesan bohongnya sudah terlanjut dibaca Amel. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk ke handphone Erza.

“Nonton Mocca sama pacar itu rasanya Sweet As Mocca, za”

Erza tersenyum membaca pesan terakhir dari Amel. Memasukan handphone ke saku jaketnya, kemudian berjalan ke luar ruangan meninggalkan kerumunan. Suara Arina perlahan-lahan menghilang di telinga Erza. Erza kini dapat melihat bulan dan awan yang memenuhi langit malam itu.

“Bodoh, buah mocca itu pahit, enggak manis” lirih Erza.


(End)

Sweet As Mocca (3)

Cangkir Kopi Terakhir 

Sudah ketiga kalinya Dika melihat jam tangannya. Sesekali dia melirik ke arah pintu masuk kedai kopi. Tak sabar dia menemui Amel yang sudah seminggu tidak bertemu. Diteguknya kopi hitam dalam cangkir yang sudah setengah kosong.

“Sorry Dik, aku telat” seorang gadis berdiri di didepannya. Dika tersenyum sambil memiringkan wajahnya.

“Gak apa-apa, Mel. Ayo duduk” pinta Dika pada Amel. Amel menarik kursi kayu di depan meja Dika. Saling berhadapan. Amel tampak cantik sekali hari ini di mata Dika. Padahal penampilannya sama saja tak ada yang berbeda. Kemeja biru muda kotak-kotak dengan celana jeans berwarna pudar dilengkapi sepatu converse flat warna coklat.

Mereka berdua terdiam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Amel menarik daftar menu di atas meja kemudian matanya menyusuri deretan nama-nama kopi. Sebenarnya Amel sudah tahu mau memesan apa, tapi dia berpura-pura agar tidak memulai pembicaraan.

Melihat tingkah Amel, Dika mengerti. “Mel, aku kangen loh sama kamu” ucap Dika memulai pembicaraan. Amel meletakkan daftar menu sambil melihat Dika.

“Yakin? Bukannya kamu lagi jenuh?” sindir Amel. Dika menarik nafas panjang. Amel memanggil pelayan sambil menyebutkan pesanannya, Chococino panas. Campuran moccachino dengan serbuk coklat dicampur dengan susu kental manis.

“Udah aku duga kamu pesen Chococino” Dika mencoba mengalihkan pembicaraan. Amel tersenyum kecil kepada Dika, tidak lama, bibir Amel kembali ditekuk.

“Semuanya beda. Semuanya udah berubah” lirih Amel. Dika kaget lalu meletakkan daftar menu yang dipegangnya.

“Mas, nanti pesanan saya menyusul saja” kata Dika kemudian pelayan tersebut meninggalkan Dika dan Amel. “Kamu tadi ngomong apa, Mel?” tanya Dika.

“Kamu ngerasa gak sih dik? Sekarang kita gak kaya dulu lagi” Dika terdiam mendengar perkataan Amel. Menarik napas panjang kemudian kembali mendengarkan Amel.

“Kita gak bisa lepas ketawa kayak dulu lagi. Kamu sibuk sama kuliah kamu, aku sibuk sama kegiatan aku. Tiap minggu pasti ada hari dimana kita berantem. Aku yang egois, sama”

“Kamu mau putus, Mel?” Dika memotong pembicaraan Amel. Amel terdiam, Dika menatap Amel, memerhatikan tiap detil dari wajah Amel. Tak sadar tetesan air mengalir keluar dari mata Amel. Tangannya otomatis mengambil tisu dari tasnya kemudian menyapu kedua matanya yang sudah mulai basah.

Suasana hening seketika. Dika terdiam menunggu jawaban Amel. Ingin rasanya dia duduk disebelah Amel lalu memeluknya dan berkata “Kamu butuh pundak aku, Mel?”. Cara efektif menenangkan kekasihnya selama tiga tahun bila menangis. Tapi sekarang sepertinya cara tersebut tidak akan berhasil.

Amel mengangkat kepalanya. Matanya sembab. “Dikk.. Aku sayang sama kamu.. dan aku tau kamu juga sayang sama aku”

Dika masih diam.

“Dik.. Kisah kita indah, tapi gak akan selamanya indah. Aku rasa, cerita kita menuju ke arah bad ending kalau diterusin”

“Sekarang juga udah bad ending , Mel” akhirnya Dika membuka mulut. Amel tersenyum mendengar ucapan Dika.

“Gak selamanya happyly ever after itu harus sama-sama loh dik”

“Iya, Mel. Aku terima kok” Dika balas tersenyum kepada Amel. Hubungan tiga tahun harus diakhiri secangkir kopi di kedai kopi tempat biasa mereka tertawa, ngobrol hal-hal yang gak penting, ataupun saling menemani saat mengerjakan tugas. Dika mengerutkan wajahnya.

Amel menahan tangis memaksa tersenyum.

“Mel, tadinya aku pengen ketemu kamu mau ngajak kamu nonton ini” kata Dika sambil mengeluarkan dua helai tiket. Dua helai tiket konser musik Mocca jumat minggu depan. “Kamu kan pengen banget nonton Mocca bareng aku” kata Dika pelan.

Senyum Amel hilang malam itu.  

Rabu, 15 Mei 2013

Sweet As Mocca (2)

Pesan dari Dika

Amel mendesah kecil. Jari-jarinya menari di atas huruf-huruf keyboard laptopnya. Diperhatikannya setiap huruf pada monitor yang terus bertambah seiring tarian jarinya. Tanda titik akhir paragraf, perhatian Amel teralihkan pada handphonenya yang berbunyi.

“Mel, jumat lusa depan Mocca tampil lagi. Nonton yok!” Amel membaca pesan black berry Reza.

Amel meletakkan hand phonenya. Amel berpikir apa Reza tidak sadar bahwa dirinya sedang memiliki kekasih. Apalagi, Reza merupakan mantan Amel. Orang yang mengenal Amel ataupun Reza akan berpikiran yang aneh-aneh pada dirinya, selingkuh, main di belakang, apapun itu namanya.

Handphone Amel kembali berbunyi.

“Mel, dimana?” Kali ini pesan dari Dika. Amel melemparkan handphonenya ke tumpukan kasur disampingnya.

“Mau kamu apa sih, Dik?” tanya Amel pada dirinya sendiri. Hubungan Amel dan Dika memang dalam keadaan yang tidak baik. Seminggu kemarin, Dika secara terang-terangan mengatakan jenuh kepada Amel. Amel bertanya apa ingin Dika, Dika menjawab meminta break. Amel tersenyum kecut. Selama tiga tahun menjalin hubungan, baru kali ini ada di antara mereka meminta break karena jenuh.

Amel membalas pesan Dika. “Di rumah. kenapa?” jawabnya singkat.

Tak lama pesan dari Dika kembali masuk. “Aku kangen mel sama kamu, kita ketemu yuk”.

 “Apaaa?” teriak Amel otomatis. ”Gila, seminggu kemarin dia jenuh lalu minta break, sekarang kangen minta ketemu! Emangnya gue mainan apa?” ketus Amel melampiaskan emosinya pada dirinya sendiri. Seperti monolog, mungkin orang lain yang melihatnya akan menyangka dirinya gila berbicara sendiri.

“Enggak” jawab Amel singkat.

“Please Mel, aku mau ketemu kamu, memperbaiki semuanya”

Amel mendengus. Pesan Erza tak langsung dia balas. Dia melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Seketika pikirannya berkecambuk. Memori-memori dia dan Dika terputar dalam otaknya. Memori-memori tersebut memaksa air mata Amel keluar dan  turun  membasahi pipinya yang merah. Semakin lama terputar, air matanya pun semakin mengalir. Tak pernah dia sesedih ini mengingat cerita-cerita bersama Dika. Ya, keadaannya berbeda. “Bukan kamu aja yang jenuh Dik, aku juga” katanya pelan.

Amel mengambil handphone disebelahnya. “Okey, kamu gak usah jemput aku. aku tunggu jam 7 di kedai kopi biasa”.

Amel kembali menatap langit-langit kamarnya. Dika kembali menyapa dalam bayang-bayang pikirannya. Namun kali ini, sosok yang dia kenal masuk ke dalam dunia ciptaan Amel. Reza. Kenangan singkat saat menonton Mocca tiga hari yang lalu bersama Reza terputar menggantikan bayangan Dika.

“Dih, ngapain aku inget-inget itu anak”

Kamis, 09 Mei 2013

Chat Dengan Rizka

Tadi sore Rizka nelepon. Partner gw dalam berbagai hal kecuali partner pelaminan ini temen gw dari SMA yang kini kuliah di ITB. Doi lagi di Jepang, ada penelitian apa gitu. Ngebela-belain ngabisin pulsa buat curhat sama gw. Curhatnya lucu. Tapi gw gak boleh bilang, rahasia katanya.

Gw emang sering ngobrol sama dia. Chat, telpunan atau MIRC. Kalau lagi buka MIRc liat nick "Ce21_doyanbatak" itu berarti dia.

Nih kalau gw chat sama dia, ngebahas hal yang gak penting ujung-ujungnya bego amat. (gambar ini gw ambil dari tumblrnya di rizkanoviandari.tumblr.com)


Gw dan dia adalah bumi dan langit. Doi pinter banget dan gw bego kayaknya. Tp doi selalu merendah, buktinya waktu gw tanya IPK doi, doi cuman jawab "Enggak ah, takut maneh tersinggung".

Chat yang gak pernah gw lupain itu waktu SMA. Isi chatnya kalo gak salah kayak gini.

Rizka : Wan, aing bingung siah.
Ridwan : Bingung kunaon?
Rizka : Aing bingung, milih antara FKG Unpad atau gak SITH ITB, kata maneh pilih yang mana?
Ridwan : Urang belum dapet sama sekali kampus, maneh enggak berempati atuh euy!
Rizka : Hahahaha, sorry-sorry, maneh SNMPTN ambil apa?
Ridwan : Fikom Unpad sama Pemerintahan Unpad, ka.
Rizka : Geus daftar SNMPTN pan?
Ridwan : Belum, kan masih lama ditutupnya juga
Rizka : Belegug ih! kan tadi terakhir pendaftaran SNMPTN
Ridwan : Serius maneh?
Rizka : Seriuss!! Maneh gak akan kuliah?
Ridwan : Anjisss kumaha?!!!

Dan besoknya gw mohon-mohon sama Bu Mustika, pegawai TU sekolah biar bisa daftar SNMPTN. Karena gw ganteng, akhirnya Bu Mus luluh.

Hey, Rizka. Maneh jangan lupa oleh-oleh dari Jepang. Miyabi ayam bawang satu, sama aoi shora rasa strawberry yah.

Ameri Ichinose juga boleh :P

Mesin Waktu, Halo Gerbang

Pernah rindu sesuatu, bukan seseorang?
Sesuatu yang berharga bagi lo, sesuatu yang berarti bagi lo dan sesuatu itu udah ga ada dan ga akan kembali lagi.

Gw lagi merindukan sesuatu itu, kedengeran mellow sih, tapi bener, gw lagi bener-bener kangen.

Gw kangen sama sekolah gw, sama hidup gw di SMAN 8 Bandung.

Mungkin terdengar berlebihan sih, "apa-apan sih, Wan, sekolah doang". Dan kalau gw boleh bilang, setengah hidup gw yang paling berkesan hingga saat ini, kehidupan gw waktu masih pake seragam putih abu.

Seorang bocah pemalas, doyan tidur di kelas, iseng sama temen-temen kelas, ngediskusiin hal yang gak penting sama temen-temen OSIS. Gw rindu itu semua.

Gw rindu saat gw buru-buru masuk sekolah karena takut kena razia rambut di depan gerbang sekolah. Gw rindu waktu buat PR sambil makan roti bakar sebelum bel masuk kelas. Gw rindu, KM kelas gw teriak "Sikap, berisalam". Gw rindu saat guru fisika nyuruh gw ngerjain soal di depan padahal gw gak bisa sama sekali. Gw rindu detik-detik pas mau bel istirahat. 

Gw rindu nulis tentang kehidupan sekolah gw di notes FB.

---------------------

Bocah Pemalas dan Si Gerbang Angkuh 
oleh Ridwan Achmad


"Hai bodoh, aku melewatimu lagi pagi ini!" ujarku berhadapan dengannya.

"Hah! Lihat saja besok pagi! Ku pastikan kau tak akan bisa melewatiku" ujarnya menantang.

"Hah, bicaralah kau dengan pohon disebelahmu itu! Dia teman yang setia bukan? Sepanjang hari menemanimu. Maaf, aku tak bisa lama-lama berbicara denganmu, aku harus menyelesaikan PRku, bersenang-senanglah" aku pergi meninggalkannya yang kesal mendengar ucapanku.

Keesokan harinya, aku bertemu lagi dengannya.

"Apa aku bilang, kali ini kau tak bisa melewatiku kan?" Tanyanya angkuh kemudian tertawa kepadaku.

"Ah, lihat saja besok pagi! Aku akan melewatimu! Tunggu saja" hari ini giliranku yang menantangnya.

Dia tertawa. "Bicaralah kau dengan anak-anak disampingmu. Anak-anak bermulut besar yang tidak menghargai waktu. Pergi sana, aku ingin sendiri"

Setiap paginya aku dan dia saling menyombongkan diri. Saling berkompetisi yang kemudian diakhiri dengan saling mencaci. Tapi sepertinya, dia yang lebih sering menghinaku. Angkuh sekali dia.

Hari itu beda. Aku menghampirinya.

"Hai, apa kabarnya kau hari ini?" tanyaku padanya.

"Sepi. Sejujurnya, aku merindukanmu, mentertawakanmu setiap paginya" jawabnya terlihat sendu.

Aku tertawa "Aku pun merindukanmu, sudahlah jangan bersedih, masih banyak anak yang harus kau tertawakan besok pagi. Apakah kau akan mentertawakannya dengan raut muka seperti itu?"

Dia tersenyum kepadaku dan aku pun membalasnya. Aku merindukanmu dan merindukan kehidupan di dalamnya.

"Halo gerbang"


Rabu, 08 Mei 2013

Manusia Mental Baja Sudah Sarjana

Tadi gw ngtweet 

"Teman sarjana.. Teman sarjana everywhere"

ada rasa iri dan sirik menyelinap masuk ke hati, tapi entah kenapa, yang gw rasa waktu liat temen-temen gw udah pada pakai toga, gw ikut senang, gw ikut bangga. Kalau gw bukan laki-laki mungkin gw udah nangis terharu liat temen gw pada lulus, dan nangis meratapi nasib gw belum lulus tentunya.

Tapi gw bahagia kok. Tuhan punya jalan buat temen-temen gw dan punya jalan juga buat gw. Gw selalu berspekulasi tentang rencana Tuhan, kenapa gw ini, dan kenapa gw itu. Spekulasi gw, Tuhan belum ngelulusin kuliah gw karena..

Gw harus bahagiain cewe-cewe cantik di kampus gw dengan ketampanan dan kekuatan cinta gw. *siap siap ditimpuk sendal jepit*

Salah satu temen gw yang sudah lulus yaitu partner proyek gagal gw, Dani Nugraha. Kenapa gw bilang partner proyek gagal, karena gw sama dia banyak bikin proyek masa depan, tapi gak ada yang jalan.

Gw masih inget waktu ngerencanain satu proyek sama Dani.

"Tenang wan, lulus mah gak usah cepet-cepet, kita jalanin aja dulu proyeknya"

Dan si kampret dia lulus duluan proyek gak jalan. Tapi gw seneng banget dia lulus duluan. 


Bukti Dani Nugraha udah lulus. Dari kiri ke kanan, Lintang, Dani, gw, Arsyad. Yang dua sebelah kiri udah lulus, yang kanan belum pada lulus.


Menurut gw, kelulusan kilat ini adalah salah satu hadiah yang Tuhan kasih buat dia karena kegigihan dia, kesabaran dia ngadepin masalah tanpa protes atau ngeluh ke Tuhan. 

Ya, Dani adalah manusia mental baja. 

Dulu Dani adalah atasan gw di OSIS SMA. Waktu itu kita sama anak-anak yang lain rencana mau buat acara yang megah dan gede banget. Rencana ya rencana, apapun itu penyebabnya, acara yang udah lama dan cape-cape disiapin enggak terlaksana.

Waktu itu gw marah-marah ke pihak sekolah, karena menurut gosip dan kabar burung, burung camar bukan burung yang lain, acara yang kita rencanain itu gagal karena pihak sekolah.

Tapi Dani dengan coolnya bilang, ga ada yang harus disalahin, ambil aja pelajarannya. Gw tahu beban Dani lebih berat dibanding gw yg cuman anggota dia. 


Lusanya, gw ikut demo sama temen-temen gw di sekolah. Akhirnya pihak sekolah ngadain konferensi antara sekolah sama siswa. Disitu ada Dani mewakili pihak OSIS. Gw nyangka Dani bakal ngejelek-jelekin pihak sekolah, bakal ngata-ngatain kepala sekolah. Tapi nyatanya, Dani bilang gak ada yang salah, kalaupun ada yg salah itu salah dia.

Entah itu pencitraan, entah beneran. Tapi gw salut banget sama dia.

Ada lagi kejadian yang ngebuktiin mental dia kuat banget. Setelah masuk universitas, Dani jadi ketua di sebuah acara. Kali ini acaranya berhasil terselenggara, tapi defisit besar banget. Panitia yang lain kabur, Dani sama panitia sisa-sisanya usaha keras nyari duit buat nutup defisit itu.

"Dan, kalau urang jadi maneh, urang gak tahu harus ngapain, buat jalanin besok harinya aja urang gak mau kayaknya" kata gw.

"Hujan juga ada redanya wan, gak selamanya hujan, usaha aja sama jalanin dulu. Stress sih, tapi ngapain juga stress terus diem ga ngapa-ngapain" kata Dani.

Dan manusia dengan mental baja itu sekarang udah sarjana. Gw yakin, suatu hari nanti di masa yang akan datang, dia bakalan jadi manusia yang selalu membahagiakan orang-orang disekitarnya.

Amin.



Selasa, 07 Mei 2013

Sweet As Mocca (1)

Malam di Panatayudha

“ I remember all the things that we shared and the promise we made..
Just you and I”

Erza memutar lensa kameranya mencari fokus dari Arina di atas panggung. Suara Arina membawakan lagu I remember bercampur dengan heningnya malam Taman Panatayudha. Malam itu Mocca mengisi acara musik yang diadakan salah satu universitas favorit di Kota Bandung. Konsep acaranya unik, membuat acara musik di ruang terbuka hijau kota dengan maksud agar masyarakat kota mau beraktivitas di taman kota.  Erza menjauhkan kamera dari matanya lalu memutar wajah menghadap gadis di sampingnya.

“Kenapa sih kamu gak nonton sama Dika?” tanya Erza pada Amel. Amel yang dari tadi terus menonton Arina dan kawan-kawan tersentak mendengar pertanyaan Erza.

Napa sih nanya gitu mulu? Kamu gak ikhlas nemenin aku, heuh?” Amel balik bertanya yang lebih terdengar seperti menggerutu.

Erza kembali mencari objek menggunakan kameranya. Matanya sibuk dengan lensa kamera lalu mulutnya kembali terbuka.

Yah, nonton Mocca kan enaknya sama pacar, Mel” Erza mengganti angle kameranya.

“Enggak, enakan sama temen, lebih bebas, kalau sama pacar kan harus ngurusin dia” jawab Amel ketus.

“Ohh” jawab Erza singkat. Suasana seketika hening di antara mereka berdua. Suara Arina kembali mencuri perhatian Amel sedangkan Erza sibuk dengan kameranya. Amel tiba-tiba mengangkat kepala menatap langit malam.

“Dia gak suka Mocca, Za” lirih Amel pelan. Erza menurunkan  kameranya kembali melihat Amel di sampingnya.

“Dih galau!” ejek Erza. “Namanya cinta, tai kucing pun dirasa coklat. Gak suka mocca pun kalo sama pacar ya berasa nonton Dewi Persik manggung gak pake baju” tambah Erza diakhiri tawa sedangkan Amel diam saja mendengarnya. Matanya kini kembali tertarik pada Arina.

“Gak lucu yah, Mel?” Erza merasa bersalah mengejek Amel. Mata Amel dan Erza kini berhadapan. “Ha ha ha, lucu sekali Erza” Amel berbalik mengejek Erza sambil berpura-pura tertawa. Erza mengerinyitkan dahinya.

“Dasar kamu, gak  berubah dari dulu” Erza berdialog pada dirinya sendiri dalam hati.

Percakapan di antara keduanya terhenti. Mulut mereka berdua kini sama-sama menyanyikan lirik yang dibawakan Arina. Sesekali mereka saling berpandangan sambil bernyanyi bersama diakhiri tawa kecil ataupun senyum terkembang.

“i will be your best friend,
I will be your guarding light”

***
“Gila gila, pecah banget Mocca tadi, Za” Amel meletakkan sendok di atas tumpukan nasi gorengnya. Kedua tangannya memegang pipi wajah, matanya berbinar binar mengingat penampilan Mocca beberapa jam sebelumnya.

“Mocca memang keren, Mel, tapi karena lau lagi galau, tadi jadinya ngena banget yah?” ejek Erza diakhiri cekikikan cemprengnya. Erza tersedak karena saking semangatnya tertawa dia lupa sedang menelan nasi gorengnya.

Amel memberikan segelas air putih pada Erza. “Makannya jangan ngejek mulu, kena kan batunya” gerutu Amel. Erza menyambar gelas dari tangan Amel. Erza mengelus dada sambil mengatur napas. Amel meneruskan kembali suapan makanannya.

“Eh Za” panggil Amel sambil mengunyah.

“Iya, Mel, kenapa?”

“Tapi makasih yah, Za udah mau nemenin”

“Iyeee, sama-sama, kaku amat lau kayak ke siapa aja”

“Ke mantan” jawab Amel polos. Erza tertawa mendengar jawaban Amel kemudian Amel pun ikut tertawa.

“Eh, Za”

“Apalagi, Mantan?” tanya Erza.

“Jangan bilang-bilang Dika yah, pleasee” mohon Amel. Erza kembali terbahak-bahak mendengar jawaban Amel, kini tawanya lebih keras dari sebelumnya. Kali ini Amel tidak ikut tertawa, dia memutar kepalanya ke kiri dan kanan dengan cepat. Memastikan tidak ada orang yang dikenal di dekatnya.

“Iya, iya, takut amat” jawab Erza kemudian meneruskan tawanya.

Amel cemberut melihat Erza tertawa mengejeknya. Namun, lama kelamaan, lekukan bibir di wajahnya berubah jadi lekukan senyum.

Sebuah pesan masuk ke handphone Amel.


“Dimana Mel?” pesan dari Dika. Senyum Amel hilang.